Grup Musik Masa Kini Berpenampilan Jadul

Ada satu cara paling sederhana untuk kembali ke masa lalu : mengenang. Tapi mengenang tentu tidak sembarang mengenang kan… Kita harus tahu mau mengenang hal apa, dan untuk apa. Perlu ada faedahnya, contoh mengenang catatan politik, demi kebaikan di masa mendatang. Ceilah.

Bukan politik saja, musik juga perlu terus dikenang. Pasalnya, seiring dengan arus kencang selera musik kekinian, kesyahduan musik jaman lampau makin hilang dari peredaran. Musisi-musisi legendaris yang keren pun makin terlupakan.

Masa-masa musik jadul semacam itu memang sudah berlalu. Para penggawanya pun makin menua, bahkan sudah tidak ada. Musiknya tidak mendapat ruang untuk mengudara di arus utama. Lalu bisakah kita menikmati musik selera muda-mudi jaman emak-bapak kita dulu? Dan buat apa? Nah, kelima grup musik ini akan menjawab pertanyaan-pertanyaan itu :

1White Shoes and the Couples Company

Siapa mengira, pada tahun 2002, sekelompok mahasiswa dari kampus kesenian di Cikini bisa menyulam kembali musik-musik jadul ke masa kini. White Shoes and the Couples Company, begitulah grup musik ini menyebut diri mereka. Musik, lirik, dan tampilannya, seperti menunjukkan nyasarnya mereka ke milenium kedua.

Konsistensi mereka berpenampilan jadul bukan sekadar gimmick pencari untung belaka, tapi sebuah keberpihakan ; berpihak kepada taste musik pada masa lalu. Mereka juga sudah “go international”, lewat label Minty Fresh (Chicago, Amerika) yang pernah juga menangani The Cardigans. Gak kok, mereka gak nyanyi lagu sarat rap dan lekukan ala botol Coca Cola.

2Leonardo and His Impeccable Six

Leonardo Ringo, sang frontman, ialah ‘orang lama’ yang sebenarnya pernah mengisi juga Zeke and the Popo. Tapi setelah bubaran, sama seperti personal ZATPP yang lain, Leonardo membentuk sendiri jalur bermusiknya. Dari awalnya sendirian, sampai akhirnya populer bersama His Impeccable Six-nya.

Leonardo and His Impeccable Six sendiri memang lebih erat dengan sejarah musik Amerika. Bisa diliat dari tampilan dan mereka ; mulai dari topi, baju, sampai pilihan alat musik. Tapi bukan berarti mereka bukan bagian dari sejarah Indonesia ya. Bagaimanapun juga musik swing ala negeri Paman Sam juga sampai ke negeri ini. Dan Leonardo membangkitkan kembali kenangan itu.

3Gribs

Sedikit yang bisa membayangkan kalau jaman sekarang masih ada rocker bercelana ketat, jaketan, berambut gondrong, bersuara melengking, menguasai panggung dengan kain terikat di penyangga mikrofon. Setidaknya itulah keterpukauan (atau kebingungan?) yang terlihat saat pertama kali melihat Gribs. Lebih takjub lagi kalau mereka sudah menggunakan properti semacam asap, darah, bahkan kembang api.

Secara musikalitas, Gribs sama sekali tidak kacangan. Lirik-liriknya pun, seringan apapun itu, bukan lirik yang sembarangan. Mereka selalu berhasil bikin lagu yang menarasikan fenomena masa kini, tapi menggunakan artikulasi ala glam-rock pada era 70-an.

4The Hydrant

Rock and Roll, atau tepatnya rockabilly, yang marak pada jaman 50-an ini ternyata masih hidup di Indonesia ; tepatnya di tangan band dari Bali, The Hydrant. Band yang berdiri pada tahun 2004 silam ini sekilas mengingatkan kita dengan grup legendaris Tielman Brothers. Kedua grup musik ini kira-kira serupa dalam hal formasi, genre, dan gaya bermusiknya.

Banyak hal yang membanggakan dari The Hydrant. Mulai dari hal sesederhana musiknya yang bisa bikin pendengarnya bergoyang sampai lupa daratan. Maupun partisipasinya tahun depan di Viva Las Vegas, ajang rockabilly terbesar sejagat. The Hydrant bakal jadi grup band indonesia terpolpuler yang diundang untuk berlaga di Viva Las Vegas.

5Tetangga Pak Gesang

Kalau sejumlah grup musik diatas sudah lama beredar, maka duo yang satu ini bisa dibilang masih cukup baru dalam meramaikan belantika musik negeri ini. Mereka yaitu Arum Tresnaningtyas dan Meicy Sitorus, dua wanita pengisi Tetangga Pak Gesang. Meskipun belum memiliki album, demo dan sejumlah lagu ciptaan mereka sudah bisa dibuka di Youtube ataupun Soundcloud.

Tetangga Pak Gesang mungkin terlihat sederhana. Mereka hanya bermodalkan suara dan berbekalkan ukulele dan kazoo. Tapi kesederhanaan itulah yang bikin musik mereka nikmat untuk didengar. Warna yang terbentuk dari paduan suara kedua personelnya seakan membawa kita kembali ke era 50-60-an, saat Tety Kadi masih tengah berjaya.

Nah, jadi mau dibawa naik mesin waktu ke mana nih? Diantar Gribs ke era glamrock, atau dibawa Leonardo ke era swing? Putuskan saja sesuai musik masa lalu favoritmu.

GROUPBANDS STAFF
"Love is the answer, and you know that for sure; Love is a flower, you've got to let it grow". - John Lennon